Mereka yang hadir yakni, mantan Gubernur BI periode 1993-1998 Sudrajat Djiwandono, mantan Gubernur BI periode 2003-2008 Burhanuddin Abdullah, mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Paskah Suzetta, hingga Wakil Menteri PPN Lukita Dinarsyah Tuwo.
Prabowo didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Investasi Rosan Roeslani.
Advertisement
"Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014," kata Airlangga dalam konferensi pers usai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, para tokoh tersebut menyampaikan beberapa hal yang terjadi pada saat krisis ekonomi. Airlangga menuturkan para tokoh itu menyampaikan tingginya inflasi serta perubahan nilai kurs rupiah akibat krisis minyak.
"Mereka menyampaikan beberapa catatan yang terjadi dan mereka mengatakan kalau di masa lalu inflasi kita di periode sekitar 17 persen dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak," jelasnya.
Airlangga mengatakan bahwa harga minyak mencapai USD 140 pada tahun 2005 karena krisis minyak. Hal ini membuat tingkat inflasi melonjak drastis.
"Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar, ada pada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27 persen," ujar Airlangga.
Kondisi Ekonomi Indonesia
Dia menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini lebih baik karena fundamental ekonomi lebih kuat dan penurunan nilai tukar rupiah masih di angka 5 persen. Airlangga menyebut pemerintah mempelajari krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia sebelumnya.
"Kalau kita cek dengan konteks hari ini relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5%, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya," tutur dia.
"Dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan," sambung Airlangga.
Dia menyampaikan Presiden Prabowo telah meminta jajaran menteri di bidang ekonomi untuk memonitor regulasi yang dapat memperkuat situasi ekonomi nasional. Termasuk, memperkuat permodalan dan perbankan.
"Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat," pungkas Airlangga.
Advertisement
