Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnWawasanSelengkapnya
Rupiah Tembus Rp 17.500, Bahlil Kaji Dampak ke Harga BBM

Rupiah Tembus Rp 17.500, Bahlil Kaji Dampak ke Harga BBM

Liputan6Liputan62026/05/13 08:01
Oleh:Liputan6
Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta. (Liputan6.com/Lizsa Egaham)
Tanya apapun tentang artikel ini...
Cari
Paling sering ditanyakan
  • Mengapa Kementerian ESDM mengkaji harga BBM?
  • Berapa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini?
  • Apa saja faktor penyebab pelemahan nilai tukar rupiah?
Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta -
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tengah mengkaji dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap penyesuaian harga BBM. Pembahasan ini dilakukan demi menghitung imbas kurs rupiah yang telah mencapai level Rp 17.500 per dolar AS terhadap subsidi energi.

"Ini kebetulan Pak Menteri (Bahlil) sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya, jadi kita tunggu aja," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Oleh karenanya, Laode belum bisa memastikan apakah pelemahan nilai tukar mata uang garuda bakal turut menyebabkan harga BBM naik pada bulan berikutnya.

"Itu masih kan belum ada info-info lain lagi selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti," kata dia.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah makin lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus 17.500 pada Selasa (12/5/2026) kemarin.

Analis menilai, rupiah melemah terhadap dolar AS imbas harapan suku bunga tinggi the Federal Reserve (the Fed) yang lebih lama dan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).

 

Rupiah Masih Betah di 17.500, Simak Prediksi Hari Ini 13 Mei 2026

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih lesu pada perdagangan Rabu, (13/5/2026) meski pada pembukaan perdagangan menguat. Pergerakan rupiah terhadap dolar AS berpotensi melemah karena risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi global.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 14 poin atau 0,08% menjadi 17.515 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 17.529 per dolar AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp 17.525-Rp 17.575, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak, index dollar dan yield obligasi pemerintah AS akibat risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi,” ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, dikutip dari Antara, Rabu pekan ini.

Mengutip Sputnik, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan secara serius untuk melanjutkan aksi militer di Timur Tengah.

Fox News melaporkan Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan Operation Project Freedom guna memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan peran militer yang diperluas.

 

Melonggarkan Defisit

Trump semakin frustrasi terhadap sikap Iran dalam negosiasi untuk menyelesaikan konflik, dan kini lebih serius mempertimbangkan dimulainya kembali operasi militer skala besar dibanding beberapa pekan terakhir. Sumber-sumber mengatakan bahwa Trump mulai kehilangan kesabaran karena Selat Hormuz masih ditutup.

Menurut sumber tersebut, kini terdapat beberapa kelompok di dalam pemerintahan AS. Sebagian mendukung pendekatan keras dengan mengusulkan pengeboman terarah secara berkelanjutan terhadap Iran untuk melemahkan posisi Teheran, sementara kelompok lain tetap mendorong cara diplomatik untuk menyelesaikan konflik.

Adapun terkait inflasi, International Monetary Fund (IMF) telah memperkirakan pertumbuhan global pada 2026 akan melambat menjadi 2,5 persen, sementara inflasi meningkat menjadi 5,4 persen, dengan asumsi konflik yang terjadi akan berlangsung panjang.

Melihat sentimen domestik, semakin sempitnya ruang fiskal menciptakan bagi pemerintah untuk memutuskan apakah menurunkan skala prioritas atau melonggarkan defisit lebih dari 3 persen. 

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!