Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, terutama lonjakan harga minyak dunia yang dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan kenaikan harga energi menjadi faktor utama tekanan terhadap rupiah.
Advertisement
“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (23/4/2026).
Ketegangan meningkat setelah perundingan putaran kedua antara AS dan Iran di Pakistan gagal terlaksana. Iran menolak hadir dalam negosiasi karena adanya blokade di Selat Hormuz.
Situasi ini memperburuk kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga Minyak Melonjak, Negosiasi Buntu
Gagalnya negosiasi damai membuat ketegangan semakin meningkat. Amerika Serikat memutuskan gencatan senjata sepihak sambil tetap menekan Iran untuk tidak mengenakan tarif di Selat Hormuz serta menghentikan pengayaan uranium.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut langkah AS justru menjadi hambatan utama dalam proses diplomasi.
Ia menilai tindakan blokade dan ancaman yang dilakukan AS menunjukkan ketidakkonsistenan antara pernyataan dan tindakan.
Seiring meningkatnya ketidakpastian, harga energi global ikut melonjak. Minyak mentah Brent tercatat berada di sekitar USD 102,25 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke kisaran USD 93,47 per barel.
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global dan berdampak langsung pada nilai tukar rupiah.
Advertisement
Sentimen Domestik Tekan Rupiah
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Aksi jual obligasi pemerintah di berbagai tenor memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi.
Kenaikan imbal hasil terjadi di hampir seluruh tenor obligasi. Imbal hasil tenor 1 tahun naik 9,5 basis points (bps), tenor 2 tahun 2,1 bps, sementara tenor 10 tahun sebagai acuan naik menjadi 6,73 persen.
“Imbal hasil tenor 1 tahun naik 9,5 basis points (bps), 2 tahun 2,1 bps. Begitu juga 3 dan 4 tahun masing-masing 10,2 bps dan 12,2 bps. Tenor 5 tahun naik 12,2 bps, bahkan tenor acuan 10 tahun naik 9,1 bps menjadi 6,73 persen,” kata Rully.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke Rp 17.308 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.179.
Kombinasi tekanan global dan domestik membuat rupiah masih berada dalam tren pelemahan dan berpotensi menghadapi volatilitas dalam waktu dekat.
