Eskalasi perang Iran dan AS-Israel yang terjadi membuat arus logistik, utamanya di Selar Hormuz terganggu. Biaya logistik juga melonjak imbas kenaikan harga minyak dunia. Budi melihat dampaknya terhadap produk asal Indonesia.
"Tentu kalau ini enggak selesai, misalnya, enggak selesai terus-menerus ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Advertisement
Dia mencatat, ekspor RI ke Timur Tengah sepanjang 2025 mencapai USD 9,87 miliar, dengan tujuan terbesar yakni Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Budi menyoroti biaya logistik yang mempengaruhi paling besar.
"Dampaknya (dari perang) sebenarnya lebih banyak faktor ke logistik, alat angkutnya. Karena memang harga minyak kan naik. Jadi pengaruhnya ke logistik dan juga salah satunya rute pengalihan. Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup," ungkapnya.
Budi menyebut, para eksportir sebetulnya masih sanggup mengirimkan barangnya. Hanya saja, biayanya menjadi lebih tinggi. "Permintaan dari Timur Tengah memang masih jalan. Ya, cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya," jelas dia.
Masih Bisa Surplus
Budi masih optimistis kinerja ekspor RI secara keseluruhan masih bisa surplus tahun ini. Mengingat ada sejumlah komoditas andalan yang dibutuhkan banyak negara, seperti minyak sawit atau crude palm oil (CPO).
"Pertama, harga komoditas untuk CPO tahun lalu itu kan turun sekitar 16% ya harga ya harga komoditas. Kemudian batu barat turun 19% kurang lebih. sekarang harga komoditas keduanya tahun ini kan mulai naik," ujarnya.
"Artinya kalau naik berarti ya nilai ekspor kita ya pasti meningkat, pasti meningkatnya. Nanti mungkin kita kompensasi dengan biayanya," Budi Santoso menambahkan.
Advertisement
Cari Tujuan Ekspor Lain
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengincar negara-negara di luar langganan sebagai tujuan ekspor baru. Menyusul ketegangan perang Amerika Serikat-Israel dan Iran yang membuat Selat Hormuz diblokade.
Budi menanggapi dampak biaya logistik yang meningkat pada proses angkut imbas hal tersebut. Maka, menurutnya, peralihan tujuan ekspor perlu dijajaki sebagai salah satu alternatif.
"Makanya tadi salah satunya kita cari diversifikasi pasar yang enggak terdampak ya, yang enggak terdampak perang ini," ungkap Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, ditulis Jumat (6/3/2026).
Lirik Asia Tenggara-Afrika
Dia mengatakan masih banyak negara yang tidak terdampak langsung penutupan Selat Hormuz. Untuk itu, peluangnya masih terbuka lebar untuk Indonesia.
"Itu yang kita business matching kita arahkan ke situ. Negara-negara Asia Tenggara, negara-negara Afrika kita juga banyak," kata dia.
Budi juga mendorong UMKM untuk melirik target baru tujuan ekspor. "UMKM itu kan biasanya kalau ekspor jangka pendek. Ekspornya bisa ke mana-mana lebih fleksibel. Nah kita akan carikan pasar-pasar yang tidak terdampak," ucapnya.
